METODE-METODE PENDIDIKAN ISLAM
METODE � METODE PENDIDIKAN ISLAM
Kata metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta
Sedangkan menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, terlebih jika metode itu sudah disandingkan dengan kata pendidikan atau pengajaran diantaranya :
� Winarno Surakhmad mendefinisikan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan
� Abu Ahmadi mendefinisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur
� Ramayulis mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan proses pembelajaran.
� Omar Mohammad mendefinisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode di atas, beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah :
a. Adanya tujuan yang hendak dicapai
b. Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan
c. Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung
d. Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
Ada istilah lain yang dalam pendidikan yang mengandung makna berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan teknik/strategi. Pendekatan merupakan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan dapat juga diartikan sebagai pedoman mengajar yang bersifat realistis/konseptual. Sedangkan teknik/strategi adalah siasat atau cara penyajian yang dikuasai pendidik dalam mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas, agar bahan pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik.
A. HAKIKAT METODE PENDIDIKAN ISLAM
Perumusan pengertian metode biasanya disandingkan dengan teknik, yang mana keduanya saling berhubungan. Metode pendidikan islam adalah prosedur umur dalam penyampaian materi untuk mencapai tujuan pendidikan didasarkan atas asumsi tertentu tentang hakikat islam sebagai suprasistem. Sedangkan teknik pendidikan islamadalah langkah-langkah konkret pada waktu seorang pendidik melaksanakan pengajaran dikelas. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi mengartikan metode sebagai jalan yang dilalui untuk memperoleh pemahaman pada peserta didik. Abd Al-Aziz mengartikan metode dengan cara-cara memperoleh informasi, pengetahuan, pandangan, kebiasaan berpikir, serta cinta kepada ilmu, guru dan sekolah. Jadi teknik merupakan pengejawantahan dari metode, sedangkan metode merupakan penjabaran dari asumsi-asumsi dasar dari pendekatan materi al-islam.
Dalam penggunaan metode pendidikan islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Disamping itu, pendidik pun perlu memahami metode-metode instruksional yang aktual yang ditujukan dalam Al- Quran atau yang dideduksikan dari Al-quran, dan dapat memberi motivasi dan disiplin atau dalam istilah Al-quran disebut dengan pemberian anugerah (tsawab) dan hukuman (�iqab). Selain kedua hal tersebut, bimana seorang pendidik dapat mendorong peserta didiknya untuk menggunakan akal pikirannya dalam menelaah dan mempelajari gejala kehidupannya sendiri dan alam sekitarnya (QS.Fushshilat:53, Al-Ghasiyah:17-21), mendorong peserta didik untuk mengamalkan ilmu pengetahuannya dan mengaktualisasikan keimanan dan ketakwaannya dalam kehidupannya sehari-hari (QS. Al-Ankabut:45, Thaha:132, Al-Baqarah:183). Seorang peserta didik pun harus mendorong peserta didik untuk menyelidiki dan meyakini bahwa islammerupakan kebenaran yang sesungguhnya, serta memberi peserta didik dengan praktik amaliah yang benar serta pengetahuan dan kecerdasan yang cukup.
B. DASAR METODE PENDIDIKAN ISLAM
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umummetode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
Dasar Agamis, maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada Agama. Sementara Agama Islam merujuk pada Al Qur�an dan Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Qur�an dan Hadits.
Dasar Biologis, Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
Dasar Psikologis. Perkembangan dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
Dasar sosiologis. Saat pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Keempat dasar di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik.
C. TUJUAN, TUGAS, DAN FUNGSI METODE PENDIDIKAN ISLAM
Pendidik dalam proses pendidikan islam tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah materi yang akan diberikan kepada peserta didiknya, tetapi ia harus menguasai berbagai metode dan teknik pendidikan guna kelangsungan transformasi dan internalisasi mata pelajaran. Hal ini karena metode dan teknik pendidikan islam tidak sama dengan metode dan teknik pendidikan yang lain.
Tujuan diadakan metode adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran islam lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui teknik motivasi yang menimbulkan gairah belajar peserta didik secara mantap. Uraian itu menunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan islam adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerja sama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik. Disamping itu, dalam uraian tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah memberi inspirasi pada peserta didik melalui proses hubungan yang serasi antara pendidik dan peserta didik yang seiring dengan tujuan pendidikan islam.
Tugas utama metode pendidikan islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagosis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberikan. Serta meningkatkan keterampilan olah pikir.
D. PENERAPAN METODE PENDIDIKAN ISLAM
METODE PEMBELAJARAN YANG DIAJARKAN RASULULLAH
Metode pengajaran ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnnya pengajaran. Oleh karena itu peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar dan mengajar.
Metode Rosulullah SAW dalam mendidik anak dapat dilihat dari hadist berikut,
Anas ra . berkata .��Rasulullah saw adalah orang yang paling baik akhlaknya . akupuna saudara yang dipanggil Abu Umair dia anak yang sudah dipisahkan dari susunan . jika datang, beliau berkata, �� wahai Abu Umair, apa yang dilakukan mughair (burung kecil) ? kadang-kadang, beliau bermain dengan dia. Jika tiba saat shalat sementara beliau masih berada dirumah kami, beliau meminta permadani yang ada dibawahnya, lalu permadani itu beliu sapu dan ditiup-tiup kemudian berdiri dan diikuti kami dibelakangnya.�� HR. Bukhari, muslim, tirmidji, dan abu daud.��
Dari hadist diatas nilai-nilai tarbiyah yang dapat dipetik adalah,
Meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak.
Membersihkan pertanda adanya peraktik amal untuk bisa berbuat bersih secara iman dan prilaku nyata.
Shalat rasulullah didalam rumah menanamkan pemmahaman teladan didalam urusan ibadah.
Kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah saw ��wahai AbuUmair apa yang diajarkan mughair ? punya beberapa paedah diantaranya
Kata-kata akhirnya cocok dengan jiwa anak.
Mudah dihafal.
Mudah diucapkan.
Turunnya Rasulullah saw keatas intelek anak bisa membuahkan rasa optimal pada diri anak.
Memakai cara dengan panggilan. Teori ini dapat memberikan kesan kepada kekeluargaan bahwa anaknya sudah dewasa.
Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari metode Rasulullah dalam mengajar anak usia puber adalah,
Mengajak anak usia puber untuk memdiskusikan inti permasalahan sehingga pikirannya tidak terpecah.
Rasulullah mengusai aspek psikis anak usia puber.
Rasulullah membuka dialog dengan anak usia puber.
Rasulullah memberikan pertanyaan yang jumlahnya banyak, dan banyaknya pertanyaan menambah jumlah dalil dab alas an.
Diskusi dilakukan dengan system Tanya jawab.
Memusatkan dan mengkonsentrasikan pikiran anak usiapuber pada pertanyaan yang dilontarkan.
Membutuhkan interaksi esensial antara pendidik dan anak usiapuber.
Jawaban darianak usia puber bisa dikategorikan sebagai dalil ilmiah.
E. PENDEKATAN METODE PENDIDIKAN ISLAM
Perwujudan strategi pendidikan islam dapat dikonfigurasikan dalam bentuk metode pendidikan yang lebih luasnya mencakup pendekatan. Untuk pendekatan pendidikan islam, dapat berpijak pada firman Allah SWT sebagai berikut:
�sebagaimana (kami telh menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu, yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu, serta mengajarkan kepadamu AL-Kitab dan Al-Hikmah, serta menganjurkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui�. (QS. Al-Baqarah:151)
�Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru pada yang ma�ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.�(QS. Ali Imran:104)
Dari kedua firman Allah itu, Jalaludin Rahmat dan Zainal Abidin Ahmad merumuskan pendekatan pendidikan islam dalam enam kategori, yaitu:
Pendekatan Tilawah (pengajaran)
Pendekatan tilawah ini meliputi membacakan ayat-ayat Allah yang bertujuan memandang fenomena alam sebagai ayat-Nya, mempunyai keyakinan bahwa semua ciptaan Allah memiliki keteraturan yang bersumber dari Rabb al-�alamin, serta memandang bahwa segala yang ada tidak diciptakan-Nya secara sia-sia belaka. Bentuk tilawah mempunyai indikasi tafakkur (berfikir) dan tadzakur (berdzikir), sedangkan aplikasinya adalah pembentukan kelompokilmiah, bimbingan ahli, kompetisi ilmiah dengan landasan akhlak islam, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, misalnya penelitian, pengkajian, seminar, dan sebagainya.
Pendekatan Tazkiyah (penyucian)
Pendekatan ini meliputi nenyucikan diri dengan upaya amar ma�ruf nahi munkar (tindakan proaktif dan tindakan reaktif).pendekatan ini bertujuan untuk memelihara kebersihan diri dari lingkungannya, memelihara dan mengembangkan akhlak yang baik, menolak dan menjauhi aklhak tercela, berperan serta dalam memelihara kesucian lingkungannya.
Pendekatan Ta�lim Al-Kitab
Mengajarkan Al-Kitab (Al-Quran) dengan menjelaskan hukum halal dan haram.Pendekatan ini bertujuan untuk membaca, memahami, dan merenungkan Al-Quran dan As-sunah sebagai keterangannya.
Pendekatan Ta�lim Al-Hikmah
Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan Ta�lim Al-Kitab, hanya saja bobot dan proporsi serta frekuensinya diperluas dan diperbesar. Indikator utama pendekatan ini adalah mengadakan perenungan (reflective thinking), reinovasi, dan interpretasi terhadap pendekatan ta�lim al-kitab.
Yuallim-kum ma lam takunu ta�lamun
Suatu pendekatan yang mengajarkan suatu hal yang memang benar-benar asing dan belum diketahui, serta pendekatan ini membawa peserta didik pada suatu alam pemikiran yang benar-benar luar biasa.
Pendekatan Ishlah (perbaikan)
Pelepasan beban dan belenggu-belenggu yang bertujuan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain sanggup menganalisis kepincangan-kepincangan yang lemah, memiliki komoitmen yang memihak bagi kaum yang tertindas, dan berupaya menjembatani perbedaan paham.
F. BENTUK METODE DAN TEKNIK PENDIDIKAN ISLAM
1. Metode diakronis
Suatu metode mengajar ajaran islam yang menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan adanya study komparatif tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan yang relevan, memiliki hubungan sebab-akibat atau kesatuan integral. Lebih lanjut peserta didik dapat menelaah kejadian sejarah dan mengetahui lahirnya tiap komponen, bagian, subsistem, sistem, dan suprasistem ajaran islam. Wilayah ini lebih terarah pada aspek kognitif.
Metode diakronis disebut juga metode sosiohistoris, yakni suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah, atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang memiliki kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan dan lingkungan tempat kepercayaan, sejarah, dan kejadian itu muncul. Metode ini menyebabkan peserta didik ingin mengetahui, memahami, menguraikan, dan meneruskan ajaran-ajaran islam dari suber-sumber dasarnya, yakni Al-Qur�an dan As-sunah serta pengetahuan tentang latar belakang masyarakat, sejarah, budaya disamping siroh Nabi SAW dengan segala alam pikirannya.
2. Metode Sinkronis-Analitis
Suatu metode pendidikan islam yang memberi kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental-intelek. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi pelaksanaan atau aplikasi praktis. Teknik pengajarannya meliputi diskusi, lokakarya, seminar, kerja kelompok, resensi buku, lomba karya ilmiah, dan sebagainya. Metode diakronis dan metode sinkronis-analitis menggunakan asumsi dasar sebagai berikut:
Islam adalah wahyu ilahi yang berlainan dengan kebudayaan sebagai hasil daya cipta dan rasa manusia (QS. 53:3-4)
Islam adalah agama yang sempurna dan di atas segala-galanya. (QS. 5:3)
Islam merupakan suprasistem yang memiliki beberapa sistem dan subsistem dan komponen dengan bagian=bagiannya dan secara keseluruhan merupakan suatu struktur yang unik (QS. 41:37)
3. Metode Problem Solving (Hill al-Musykilat)
Metode ini merupakan pelatihan peserta didik yang dihadapkan pada berbagai masalah suatu cabang ilmu pengetahuan dengan solusinya. Metode ini dapat dikembangkan melalui teknik simulasi, Micro-teaching, dan critical incident (tanqibiyah). Di dalam metode ini, caramengasakan keterampilan lebih dominan ketimbang pengembangan mental-intelektual, sehingga terdapat kelemahan, yakni perkembangan pikiran peserta didik mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanistik.
4. Metode Empiris (Tajribiyah)
Suatu metode mengajar yang memungkinkan peserta didik mempelajari ajaran islam melalui proses realisasi, aktualisasi, serta internalisasi norma-norma dan kaidah islam melalui proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial. Metode problem solving dan metode empiris menggunakan asumsi dasar sebagai berikut:
Norma (ketentuan) kebajikan dan kemungkaran selalu ada dan diterangkan dalam Islam
(QS. 3:104)
Ajaran islam merupakan jalan menuju pada ridha Allah SWT (QS. 48:29)
Ajaran islam merupakan risalah atau pedoman hidup di dunia dan diakhirat (QS. 42:13)
5. Metode Induktif
Metode yang dilakukan oleh pendidik dengan caramengajarkan materi yang khusus (juz�iyah) menuju pada kesimpulan yang umum. Tujuan metode adalah agar peserta didik bisa mengenal kebenaran-kebenaran dan hukum-hukum umum setelah melalui riset. Prosedur pelaksanaan metode induktif dapat dilakukan dengan empat tahap, yaitu:
Adanya penjelasan dan penguraian serta penampilan topik pikiran yang umum
Menampilkan pokok-pokok pikiran dengan cara menghubung-hubungkan masalah tertentu, sehingga dapat mengikat bahasan untuk menghindari masuknya bahasan yang tidak relevan
Identifikasi masalah dengan mensistematisasikan unsur-unsurnya
Aplikasi formula yang baru tersebut
6. Metode Deduktif
Metode yang dilakukan oleh pendidik dalam pengajaran ajaran Islam melalui cara menampilkan kaidah yang umum kemudian menjabarkannya dengan berbagai contoh masalah sehingga menjadi terurai. Dalam pendidikan, metode deduktif sangat diperlukan. Kenyataan ini menjadi lebih jelas ketika seseorang menyadari bila mempelajari fakta-fakta yang berserakan, ia tidak akan dapat menunjukkan inti dari pengajaran. Oleh karena itu, merumuskan suatu prinsip umum dari fakta-fakta yang berserakan semacam itu lebih berharga, sebab iamengharuskan peserta didik untuk membandingkan dan merumuskan konsep-konsep. Namun ketika beberapa fakta atau elemen-elemen itu hilang, peserta didik tersebut tidak mungkin bisa mencapai tujuannya. Hal ini menunjukkan bahwa pendidik dapat memainkan peranan dalam mengembangkan deduksi melalui pemberian fakta-fakta atau mater-materi yang diperlukan terhadap peserta didik dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menemukan prinsip umum tersebut.
G. MACAM-MACAM PENDE KATAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Ramayulis pendekatan pandangan falsafi terhadap subject matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode mengajar. Menurutnya setidaknya ada enam pendekatan yang dapat digunakan pendidikan Islam dalam pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu :
Pendekatan pengalaman. Yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual maupun kelompok. Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.
Pendekatan pembiasaan. Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja yang kadang kala tanpa dipikirkan. Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada peserta didik terbiasa mengamalkan ajarannya.
Pendekatan emosional. Pendekatan emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Pendekatan Rasional, yaitu suatu pendekatan mempergunakan rasio dalam memahami dan menerima kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bahkan dengan akal yang dimilikinya juga manusia juga dapat membenarkan dan membuktikan adanya Allah.
Pendekatan fungsional, yaitu suatu pendekatan dalam rangka usaha menyampaikan materi agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatan pada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Ilmu Agama yang dipelajari anak di sekolah bukanlah hanya sekedar melatih otak tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan social.
Pendekatan keteladanan. Pendekatan keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan baik yang berlangsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang mencerminkan akhlak terpuji, maupun yang tidak langsungmelalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah ketauladanan.
Posting Komentar untuk "METODE-METODE PENDIDIKAN ISLAM"